Tampilkan postingan dengan label Teori Analisis Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Analisis Wacana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2011

Teori-Teori Krisis

Teori kritis dimulai dengan karya-karya Max Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse dari Frankfurt School dalam tahun 1923. Kelompok ini semula dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Marxis, walaupun tidak semua yang ada pada teori kritis  adalah Marxis.
Meskipun terdapat beberapa macam ilmu sosial kritis, menurut Sendjaja (1994:392) semuanya memiliki tiga asumsi dasar yang sama, yaitu:
§  semuanya menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial interpretif. Yaitu bahwa ilmuwan kritis  menganggap perlu untuk memahami pengalaman orang dalam konteks. Secara khusus pendekatan kritis bertujuan untuk menginterpretasikan dan karenanya memahami bagaimana berbagai kelompok sosial dikekang dan ditindas.
§  pendekatan ini mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya untuk mengungkap struktur-struktur  yang seringkali tersembunyi.  Kebanyakan teori-teori kritis mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaimana seseorang ditindas sehingga orang dapat mengambil tindakan untuk merubah kekuatan penindas.
§  Pendekatan kritis secara sadar berupaya menggabungkan teori dan tindakan. Teori-teori tersebut jelas normatif dan bertindak untuk mencapai perubahan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi hidup kita.

Ilmu sosial kritis pada dasarnya memiliki implikasi ekonomi dan politik, tetapi banyak di antaranya yang berkaitan  dengan komunikasi dan tatanan komunikasi dalam masyarakat. Meskipun demikian, teoretisi kritis biasanya enggan untuk memisahkan komunikasi dan elemen-elemen lainnya dari keseluruhan sistem. Dengan kata lain, suatu teori kritis mengenai komunikasi (atau ekonomi, atau politik) perlu melibatkan kritik mengenai masyarakat secara keseluruhan.

Teori komunikasi kritis berhubungan dengan berbagai topik yang relevan, termasuk bahasa, struktur organisasi, hubungan interpersonal, dan media. Komunikasi itu sendiri menurut perspektif kritis merupakan suatu hasil dari tekanan (tension) antara kreativitas individu dalam memberi kerangka pada pesan dan kendala-kendala sosial terhadap kreativitas tersebut.
            Dalam hubungannya dengan penelitian komunikasi, aliran kritis memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
1.    Aliran Kritis lebih menekankan pada unsur-unsur filosofis  komunikasi. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikemukakan oleh kaum kritis adalah siapa yang mengontrol arus komunikasi? siapa yang diuntungkan oleh arus dan struktur komunikasi yang ada?, ideologi apa yang ada dibalik media?.
2.    Aliran Kritis melihat struktur sosial sebagai konteks yang sangat menentukan realitas, proses, dan dinamika komunikasi manusia. Bagi aliran ini, suatu penelitian komunikasi manusia, khususnya komunikasi massa yang mengabaikan struktur sosial sebagai variabel berpengaruh, dikatakan bahwa penelitian tersebut a-historis dan a-kritis.
3.    Aliran Kritis lebih memusatkan perhatiannya pada siapa yang mengendalikan komunikasi. Aliran ini beranggapan bahwa komunikasi hanya dimanfaatkan oleh kelas yang berkuasa, baik untuk mempertahankan kekuasaannya maupun untuk merepresif pihak-pihak yang menentangnya.
4.    Aliran Kritis sangat yakin dengan anggapan bahwa teori komunikasi manusia, khususnya teori-teori komunikasi massa, tidak mungkin akan dapat menjelaskan realitas secara utuh dan kritis apabila ia mengabaikan teori-teori tentang masyarakat. Oleh karena itu, teori komunikasi massa harus selalu berdampingan dengan teori-teori sosial (Akhmad Zaini Abar, 1999:54).

Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas beberapa teori yang dikategorikan sebagai teori-teori dalam perspektif kritis, antara lain:

Teori Feminis
Teori feminis berbeda dengan teori-teori sebelumnya yang pernah kita bahas. Hal ini dikarenakan teori ini adalah pemikiran sebuah komunitas interdisipliner.
Teori feminis adalah sebuah generalisasi dari berbagai sistem gagasan mengenai kehidupan sosial dan pengalaman manusia yang dikembangkan dari perspektif yang terpusat pada wanita. Teori ini terpusat pada wanita dalam tiga hal:
a.    sasaran utama studinya titik tolak seluruh penelitiannya adalah situasi dan pengalaman wanita dalam masyarakat.
b.    Dalam proses penelitiannya, wanita dijadikan sasran sentral; artinya, mencoba melihat dunia khusus dari sudut pandang wanita terhadap dunia sosial.
c.     Teori feminis dikembangkan oleh pemikir kritis dan aktivis atau pejuang demi kepentingan wanita.
Teoretisi feminis mengamati bahwa banyak aspek kehidupan yang sebenarnya terlepas dari aspek biologis (jenis kelamin) dipahami dalam kualitas gender, termasuk bahasa, karya, peran keluarga, pendidikan, sosialisasi, dan sebagainya. Kritis feminis ditujukan untuk mengungkap kekuatan dan keterbatasan pembagian ini. Banyak teori feminis menekankan penindasan dalam hubungan gender. Gender adalah suatu konstruksi sosial yang meskipun perlu, telah didominasi oleh laku-laki dan menindas perempuan. Teori feminis ditujukan untuk menantang asumsi-asumsi gender yang berlaku luas dalam masyarakat dan untuk mencapai cara-cara yang membebaskan perempuan dan laki-laki untuk eksis di dunia.
Kritik feminis menjadi semakin populer dalam studi komunikasi. Kritik ini mempelajari:
1.    gejala di mana bahasa yang bias laki-laki (mendominankan kedudukan laki-laki) akan mempengaruhi hubungan antara laki-laki dan perempuan.
2.    gejala di mana dominasi laki-laki telah membatasi komunikasi bagi perempuan.
3.    gejala di mana perempuan memiliki pola-pola percakapan  dan bahasa laki-laki yang akomodatif dan menentang, kekuatan bentuk-bentuk komunikasi yang feminin, dan gejala sejenis lainnya.
Salah satu varian dari teori feminis adalah  Muted Group Theory (teori kelompok bungkam). Teori kelompok bungkam adalah suatu contoh menarik dari teori komunikasi kritis. Teori ini memusatkan perhatiannya pada kelompok tertentu dalam masyarakat, mengungkap struktur-struktur penting yang menyebabkan penindasan, dan memberikan arah bagi perubahan yang positif.
Teori yang dirintis oleh antropolog Edwin Ardener dan Shirley Ardener ini berasumsi bahwa bahasa dari suatu budaya memiliki bias laki-laki yang melekat di dalamnya, yaitu bahwa laki-laki menciptakan makna bagi suatu kelompok dan bahwa suara perempuan ditindas atau dibungkam. Perempuan yang dibungkam ini dalam pengamatan Ardener membawa kepada ketidakmampuan perempuan untuk dengan lantang mengekspresikan dirinya dalam dunia yang didominasi laki-laki.

Analisis Wacana
Dalam khasanah studi analisis tekstual, analisis wacana masuk dalam paradigma kritis, suatu paradigma berpikir yang melihat pesan sebagai pertarungan kekuasaan, sehingga teks berita dipandang sebagai bentuk dominasi dan hegemoni satu kelompok kepada kelompok yang lain.
Paradigma kritis melihat bahwa media bukanlah saluran yang bebas dan netral. Media justeru dimiliki oleh kelompok tertentu dan digunakan untuk mendominasi kelompok yang tidak dominan. Oleh karena itu, pertanyaan pertama dari paradigma kritis adalah siapakah (orang/kelompok) yang menguasai media? Apa keuntungan yang didapat oleh seseorang/kelompok tersebut dengan mengontrol media? Pihak mana yang tidak dominan?, sehingga tidak bisa mempunyai akses dan kontrol terhadap media bahkan hanya menjadi objek pengontrolan?
Paradigma kritis berargumentasi, melihat komunikasi, dan proses yang terjadi di dalamnya haruslah dengan pandangan holistik. Menghindari konteks sosial akan menghasilkan distorsi yang serius. Tidaklah mengherankan, berbeda dengan penelitian positivistik yang umumnya atomistik, paradigma kritis justeru bersifat holistik dan bergerak dalam struktur sosial ekonomi masyarakat. Karena menurut pandangan kritis, komunikasi tidak dapat dilepaskan dari kekuatan-kekuatan yang ada yang mempengaruhi berlangsungnya komunikasi.
Critical Discourse Analysis, yang melihat produksi dan distribusi budaya-termasuk artefak budaya semacam teks isi media-selalu berlangsung dalam hubungan dominasi dan subordinasi. Oleh karena itu pula, Critical Discourse Analysis memiliki asumsi epistemologi dan ontologi tersendiri; sehingga juga membawa implikasi metodologis yang khas-yang berbeda dengan asumsi-asumsi paradigmatik analisis wacana dalam persfektif positivis ataupun konstruktivis.
Salah satu kriteria yang berlaku bagi sebuah studi kritis adalah sifat holistik dan konstekstual. Kualitas suatu analisis wacana kritis akan selalu dinilai dari segi kemampuan untuk menempatkan teks dalam konteksnya yang utuh, holistik, melalui pertautan antara analisis pada jenjang teks dengan analisis terhadap konteks pada jenjang-jenjang yang lebih tinggi.
            Salah satu varian dari analisis wacana kritis adalah model Teun Van Dijk. Menurut van Dijk, (dalam Eriyanto, 2001:225) penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan  pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktek produksi yang harus juga diamati. Disini harus dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga kita memperoleh suatu pengetahuan kenapa teks bisa semacam itu. Proses produksi itu, dan pendekatan ini menurut van Dijk, melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial.  Istilah ini sebenarnya diadopsi dari pendekatan psikologi sosial,  terutama untuk menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks. Oleh karena itu, penelitian mengenai wacana tidak bisa mengeksklusi seakan-akan teks adalah bidang yang kosong, sebaliknya ia adalah bagian kecil dari struktur besar mayarakat.
            Berbagai masalah yang kompleks dan rumit dalam pembentukan sebuah teks berita, dicoba untuk digambarkan oleh van Dijk. Van Dijk tidak mengeksklusi modelnya semata-mata dengan menganalisis teks semata. Ia juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi/pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap teks tertentu. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi/bangunan: teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah  bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Analisis van Dijk di sini menghubungkan analisis tekstual-yang memusatkan perhatian melulu pada teks-ke arah analisis yang komprehensif bagaimana teks berita itu diproduksi, baik dalam hubungannnya dengan individu wartawan maupun dari masyarakat.

Semiotika
Secara terminologis semiotika adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi baik secara verbal maupun nonverbal sehingga bersifat komunikatif .
Semiotika memandang komunikasi sebagai pembangkitan makna dalam pesan. Makna bukanlah konsep yang mutlak dan statis yang bisa ditemukan dalam kemasan pesan. Pemaknaan merupakan proses aktif.
Dalam kajian semiotika ini berupaya menguak makna dari penggunaan tanda-tanda yang ada hingga pada tataran ideologi-ideologi yang tersembunyi di balik penggunaan tanda itu sendiri.

Cultural Studies
Cultural studies  adalah suatu kajian baru yang tengah “naik daun”. Ia telah menjadi pusat perhatian setidaknya karena budaya (culture) sebagai tema atau topik studi telah menggantikan masyarakat sebagai subjek telaah umum.
Cultural studies  merupakan tema akademis dalam segala aspek bukan hanya komunikasi, suatu kajian terutama di bidang seni, humaniora, ilmu-ilmu sosial, dan bahkan sain dan teknologi.
Menjadi pertanyaan, apakah subjek dari cultural studies itu? Tidak seperti disiplin akademis tradisional, cultural studies tidak mempunyai ranah intelektual atau disiplin yang terdefinisi dengan jelas. Tetapi secara umum Cultural studies dapat dikatakan memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna.
Titik pijaknya adalah sebuah gagasan tentang budaya yang sangat luas dan mencakup segala hal yang digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari beraneka kajian. Ia tumbuh subur pada batas-batas dan pertemuan bermacam wacana yang sudah dilembagakan, terutama dalam susastra, sosiologi, dan sejarah; juga dalam linguistik, semiotik, antropologi, dan psikoanalisa. Bagian dari hasilnya, dan bagian dari pergolakan politik dan intelektual tahun 1960-an (yang ditandai dengan perkembangan yang cepat dan meluasnya strukturalisme, semiotik, marxisme,dan feminisme) cultural studies memasuki periode perkembangan teoritis yang intensif.
Cultural studies berfungsi dengan meminjam secara bebas dari disiplin ilmu sosial, seluruh cabang humaniora, dan seni. Ia mengambil teori-teori dan metodologi dari beragam kajian keilmuan dan mengadopsinya yang disesuaikan dengan tujuannya.
Cultural studies mempunyai beberapa karakteristik:
a.    cultural studies bertujuan mengkaji pokok persoalannya dari sudut praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial makna dan kesadaran) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan ekonomi (produksi) dan politik (relasi sosial).
b.    Cultural studies tidak hanya studi tentang budaya, seakan-akan ia merupakan entitas tersendiri yang terpisah dari konteks sosial dan politiknya. Tujuannya  adalah memahami budaya dalam segala bentuk kompleknya dan menganalisis konteks sosial dan politik tempat budaya mengejawantahkan dirinya.
c.    Budaya dalam cultural studies selalu menampilkan dua fungsi: ia sekaligus merupakan objek studi maupun lokasi tindakan dan kritisisme politik. Cultural studies bertujuan menjadi, baik usaha pragmatis maupun intelektual.
d.    Cultural studies berupaya membongkar dan mendamaikan pengotakan pengetahuan, mengatasi perpecahan antara bentuk pengetahuan yang tak tersirat (yaitu pengetahuan intuitif berdasarkan budaya lokal) dan yang obyektif (yang dinamakan universal). Cultural studies mengasumsikan suatu identitas bersama dan kepentingan bersama antara yang mengetahui dan yang diketahui, antara pengamat dan yang diamati.
e.    Cultural studies melibatkan dirinya dengan evaluasi moral masyarakat modern dan dengan garis radikal tindakan politik. Tradisi cultural studies mempunyai komitmen bagi rekonstruksi sosial dengan melibatkan diri dalam kritik politik. Jadi, cultural studies bertujuan memahami dan mengubah struktur dominasi di mana-mana, namun secara khusus lagi dalam masyarakat kapitalis industrial.
(Zardar, Zianuddin dan Borin Van Loon. 2001:9)
 


 

Kepustakaan

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKIS
Littlejohn, Stephen. 1996. Theories of Human Communication. Wadsworth Publishing Company Inc Belmont.
Sendjaja, Sasa Djuarsa. 1993. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka
Zardar, Zianuddin dan Borin Van Loon. 2001. Cultural Studies for Beginners. Bandung: Mizan



Rabu, 05 Januari 2011

Analisis Wacana ,Pengantar Analisis Teks Media (Eriyanto)

Analisis Wacana

 
Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.                                  
Ada tiga pandangan mengenai analisis wacana. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal). Disebut Analisis Isi (kuantitatif)
Pandangan kedua disebut  konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. Disebut  Analisis Framing (discourse analysis).
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).
 Dalam penelitian ini akan membatasi dalam hal analisis wacana kritis. Khususnya pada analisis wacana model Teun A. van Dijk. Untuk mengkaji maksud-maksud yang ada dalam bahasa yang digunakan para kandidat Pilgub di Surabaya 2008 pada saat berkampanye. Baik yang ada pada internet, spanduk, panflet, seteriker, dan koran.
Analisis wacana model van Dijk sering disebut ”kognisi sosial” nama pendekatan semacam ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik analisis wacana model van Dijk. Menurut van Dikj penelitian  wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari praktik produksi yang harus diamati. Disini patut dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi. Sehingga kita dapat memperoleh suatu pengetahuan tentang kenapa suatau teks bisa semacam itu. Kalau ada teks yang memarjinalkan wanita, maka dibutuhkan suatu penelitian yang melihat bagaimana produksi teks itu bekerja, kenapa teks tersabut memarjinalkan wanita. Proses pendekatan dan produksi ini melibatkan suatu yang disebut kognisi sosial.
Berbagai masalah kompleks dan rumit itulah yang dicoba digambarakan oleh van Dijk. Oleh karenanya van Dijk tidak mengeksklusi modelnya hanya semata menganalisis teks. Tapi ia juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan berpengaruh pada teks. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempuyai tiga dimensi, diantaranya : teks, kognisi sosial, dan kontek sosial (analisis sosial). Dalam dimensi teks yang dianalisis bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari bagaimana proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari komunikator. Sedangkan, aspek analisis sosial mempelajari bagunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Namun dalam penelitian ini hanya memfokuskan pada dimensi teks dan analisis sosial.

1. Teks
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa bagian struktur yang masing-masing saling mendukung. Ia dalam hal ini membaginya dalam tiga tingkat. Pertama, struktur makro, ini merupakan makna global atau umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu teks. Kedua, superstruktural yaitu merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks. Bagaimana bagian-bagian teks tersusun kedalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro adalah makna wacana yang diamati dari bagian terkecil dari suatu teks semisal, kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar. Berikut dapat diuraikan satu persatu elemen wacana model van Dijk :

Struktur wacana
Hal yang diamati
Elemen
Struktur makro

Tematik
Tema/ topik yang dikedepankan dalam berita

Topik

Superstruktur

Skematik
Bagaimana bagian dan urutan berita diskemakan dalam teks berita utuh
skema
Struktur mikro
Semantik
Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita. Misal dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat eksplisi satu sisi dan mengurangi detil sisi lain.
Latar, detil, maksud, pranggapan, nominalisasi
Struktur mikro
Sintaksis
Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih.
Bentuk kalimat, koherensi, kata ganti
Struktur mikro
Stilistik
Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks berita.
Leksikon

Struktur mikro
Retoris
Bagaimana cara penekanan dilakukan.
Grafis, metafora, ekspresi


Namun dalam penelitian ini kami akan memfokuskan pada elemen-elemen teks yang sesuai dan sejalan dengan kriteria penelitian yaitu manipulasi bahasa pada kampanye Pilgub di Surabaya 2008, diantaranya sebagai berikut :

a.       Tematik
Elemen tematik menujuk pada gambaran umum dari suatu teks. Bisa juga disebut sebagai gagasan inti, ringkasan atau yang utama dari suatu teks. Topik menggambarkan apa yang ingin diungkapkan komunikator dalam pemberitaanya. Topik juga menujukkan konsep dominan, sentral, dan paling penting dari isi suatu berita. Oleh karena itu sering juga disebut tema dan topik. Menurut van Dijk teks tidak hanya didefinisikan mencerminkan pandangan atau topik tertentu, tetapi sebuah pandangan umum yang koheren. Van Dijk menyebutnya sebagai koherensi global (global coherence), yakni bagian-bagian dalam teks kalau dirunut menujuk pada suatu titik gagasan umum dan bagian-bagian itu saling mendukung satu sama lain untuk menggambarkan topik umum tersebut. Topik menggambarkan tema umum dari teks berita, topik juga didukung oleh subtopik satu dengan subtopik yang lain yang saling mendukung untuk terbentuknya topik umum. Subtopik juga didukung oleh serangkaian fakta yang menujuk dan menggambarkan subtopik. Sehingga dengan subbagian yang saling mendukung antara satu bagian dengan bagian lain, teks secara keseluruan membentuk teks yang koheren dan utuh.

b.      Kata Ganti
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menujukan posisi seseorang dalam wacana. Dalam menggungkapkan sikapnya, seseorang dapat menggunakan kata ganti ”saya” atau ”kami” yang menggambarkan bahwa sifat tersebut merupakan sikap resmi komunikator semata. Akan tetapi ketika memakai kata ganti ”kita” menjadikan sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas tertentu. Batas antara komunikator dengan khalayak segaja dihilangkan untuk menujukkan apa yang menjadi sikap komunikator juga menjadi sikap komunitas secara keseluruan.
Pemakaian kata ganti jamak seperti ”kita” atau ”kami” mempunyai implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian publik, serta mengurangi kritik dan op0osisi (hanya) kepada diri sendiri. Misalnya pada kalimat ”kami masyarakat Indonesia”  dan ”kita bangsa yang besar”. Berbagai kata ganti juga digunakan secara strategis sesuai dengan kondisi yang ada. Prinsipnya adalah merangkul dukungan dan menghilangkan oposisi yang ada.
           
c.       Leksikon
Pada dasarnya elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pilihan kata atas berbagai kemungkinan yang tersedia. Suatu fakta umumnya terdiri atas beberapa kata yang merujuk pada fakta. Kata ”meninggal” mempuyai kata lain : mati, tewas, gugur, meninggal, terbunuh, menghembuskan nafas terakhir. Diantara kata ini dapat dipilih di antara satu. Dengan demikian pilihan kata yang dipakai tidak semata karena kebetulan, tetapi secara ideologis menujukan bagaimana pemaknaan komunikator terhadap fakta atau realitas. Oleh karenanya fakta yang sama dapat digambarkan dengan pemilihan kata yang berbeda. Semisal, peristiwa terbunuhnya mahasiswa Trisakti dapat disajikan dengan kata-kata ”pembunuhan”, ”kecelakaan”,  atau bahkan ”pembantaian”.

d.      Grafis
Elemen ini merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan (dianggap penting) oleh komunikator, dimana dapat diamati dari teks. Dalam wacana berita grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dari tulisan yang lain. Pemakaian huruf tebal, miring, garis bawah, dan huruf yang dibuat dengan ukuran lebih besar. Termaksud juga pemakaian caption, raster, grafik, gambar, foto, atau table untuk mendukung arti penting suatu pesan. Bagian yang dicetak berbeda adalah bagian yang dipandang penting oleh komunikator, dimana ia menginginkan khalayak menaruh perhatian lebih pada bagian tersebut. Serta upaya ini untuk memegaruhi dan mensugesti khalayak pada bagian mana yang harus diperhatikan dan bagian mana yang tidak.

e.       Metafora
Dalam suatu wacana komunikator tidak hanya menyampaikan pesan pokok lewat teks. Tetapi juga kiasan, ungkapan, metafora yang dimaksud sebagai ornamen (bumbu) dari suatu wacana. Akan tetapi pemakaian metafora tertentu bisa jadi menjadi petunjuk utama untuk memahami makna suatu teks. Metafora dipakai komunikator secara strategis sebagai landasan berpikir, alasan pemikiran atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik. Komunikator juga menggunakan kepercayaan masyarakat, ungkapan sehari-hari, pribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, bahkan mungkin ungkapan yang diambil dari ayat-ayat suci, yang semuanya digunakan untuk memperkuat pesan utama teks berita atau pada bahasa kampanye.
 
2.  Analisis sosial

Wacana adalah bagian dari wacana yang berkembang dalam masyarakat. Sehingga untuk meneliti teks perlu dilakukan analisis intertekstualitas dengan meneliti bagaimana wacana pemberitaan tentang suatu hal diproduksi dan direkontruksi dalam masyarakat. Misal, ketika akan meneliti bagaimana wacana pemberitaan media atas isu komunisme. Dalam kerangka model van Dijk, kita perlu melakukan penelitian bagaimana wacana komunisme diproduksi dalam masyarakat. Penelitian dilakukan dengan menganalisis bagaimana negara melakukan produksi dan reproduksi atas wacana komunisme. Lewat buku-buku sekolah, pidato politik, dan sebagainya. Titik penting dari analisis ini adalah untuk menujukan bagaimana makna yang dihayati bersama, kekuasan sosial diproduksi lewat pratik dikursus dan legitimasi. Maka dalam penelitian manipulasi bahasa kampanye Pilgub di Surabaya 2008 akan diamati bagaimana pemahaman masyarakat tentang penggunaan bahasa yang digunakan dalam kampanye Pilgub di Surabaya. Menurut van Dijk dalam analisis sosial ada dua poin diantaranya : kekuasaan (power) dan akses (acces).

a. Pratik kekuasaan
Van Dijk mendefinisikan kekuasaan tersebut sebagai kepemilikan yang dimiliki suatu kelompok (atau anggotanya) untuk mengontrol kelompok lain. Kekuasaan ini biasanya didasarkan pada kepemilikan atas sumber yang bernilai, seperti uang, status, dan pengetahuan. Selain berupa kontrol yang bersifat langsung  dan fisik kekuasaan itu juga berbentuk persuasif : tidakan seseorang secara tidak langsung mengontrol dengan jalan mempengaruhi kondisi mental, seperti kepercayaan, sikap, dan pengetahuan. Yang nantinya dapat berpengaruh pada pemahaman pada sebuah wacana tertentu.
 
b. Akses mempengaruhi wacana
Analisis wacana model van Dijk memberi perhatian besar pada akses. Bagaimana akses diantara kelompok masyarakat elit mempunyai akses lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat yang tidak berkuasa. Oleh karena itu, mereka yang lebih berkuasa mempunyai kesempatan lebih besar untuk  mempunyai akses pada media dan kesempatan lebih besar untuk mempengaruhi kesadaran khalayak.
Akses yang lebih besar bukan hanya memberi kesempatan untuk mengkontrol kesadaran khalayak lebih besar. Tapi juga membentuk topik dan isi wacana apa yang dapat disebarkan dan didiskusikan pada khalayak. Namun khalayak yang tidak memiliki akses tidak hanya menjadi konsumen dari dikursus yang telah ditentukan. Tapi juga berperan besar lewat reproduksi, karena apa yang mereka terima dari kelompok yang lebih tinggi disebarkan lewat pembicaraan dengan keluarnga, teman sebayah, dan sebagainya. Dan akhirnya merujuk pada sebuah manipulasi bahasa untuk mendapat massa dan dukungan.