Tampilkan postingan dengan label Teori Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Filsafat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2011

Definisi Filsafat Ilmu

Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman "philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.

Lewis White Beck "Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)

A. Cornelius Benjamin "That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)

Michael V. Berry "The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck "Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.

Peter Caws "Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error.(Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan.

Stephen R. Toulmin "As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)

Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)

Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)



Kamis, 21 Juli 2011

Filsafat Bahasa

 
Hadirnya filsafat bahasa dalam dunia filsafat merupakan pendatang baru. Filsafat bahasa baru berkembang sekitar abad keduapuluhan, setelah munculnya linguistik modern yang digawangi oleh tokoh strukturalis yaitu Mongin Ferdinand Saussure (1857-1913).

Menurut Verhaar pengertian filsafat bahasa mengandung dua makna yaitu; (1) filsafat mengenai bahasa, dan (2) filsafat berdasarkan bahasa. Dalam pengertian pertama bahasa dijadikan sebagai objek berfilsafat, seperti ilmu bahasa, psikolinguistik, sejarah asal usul bahasa. Dalam pengertian kedua bahasa dijadikan sebagai landasan atau acuan dalam berfilsafat. Dalam hal ini, menurut Verhaar bahasa mengandung dua pengertian; bahasa eksklusif yaitu bahasa komunikasi sehari-hari yang dipakai sebagai pedoman filsafat analitik dan bahasa inklusif yaitu bahasa musik, bahasa cinta, bahasa alam yang dijadikan arahan dalam hermeneutika. (R. Mustansyir: Filsafat Bahasa)

Menurut R. Mustansyir filsafat bahasa adalah penyelidikan secara mendalam terhadap bahasa yang dipergunakan dalam filsafat, sehingga dapat dibedakan pernyataan filsafat yang bermakna dan tidak bermakna.

Filsafat bahasa, kata Asep A. Hidayat dalam Filsafat Bahasa, pengertiannya dapat ditinjau dari dua pandangan yaitu; filsafat sebagai sebuah ilmu dan sebagai sebuah metode. Jadi menurut A. A. hidayat filsafat bahasa dalam pengertian sebagai ilmu adalah kumpulan dari hasil pemikiran filosof tentang hakikat bahasa yang disusun secara sisitematis untuk dipelajari dengan menggunakan metode tertentu. Sedangkan pengertian filsafat bahasa sebagai sebuah metode adalah metode berfikir secara mendalam, logis, dan universal mengenai hakikat bahasa.
 
Filsafat bahasa adalah penyelidikan beralasan ke alam, asal-usul, dan penggunaan bahasa. Sebagai topik, filsafat bahasa bagi para filsuf analitik berkaitan dengan empat masalah utama: sifat makna, penggunaan bahasa, kognisi bahasa, dan hubungan antara bahasa dan realitas. Untuk filsuf kontinental, Namun, filsafat bahasa cenderung ditangani, bukan sebagai topik yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari logika, sejarah atau politik. (Lihat bagian "Bahasa dan Continental Filsafat"di bawah.)

Pertama, filsuf bahasa ke menanyakan sifat makna, dan berusaha untuk menjelaskan apa artinya "berarti" sesuatu. Topik dalam pembuluh darah yang meliputi sifat sinonim, asal-usul makna itu sendiri, dan bagaimana makna yang bisa benar-benar diketahui. Proyek lain di bawah judul ini kepentingan khusus filsuf analitik bahasa adalah penyelidikan cara yang tersusun menjadi kalimat keluar keseluruhan bermakna arti bagian-bagiannya.

Kedua, mereka ingin memahami apa yang pembicara dan pendengar lakukan dengan bahasa dalam komunikasi, dan bagaimana digunakan sosial. Kepentingan khusus dapat meliputi topik pembelajaran bahasa, penciptaan bahasa, dan tindak tutur.

Ketiga, mereka ingin tahu bagaimana bahasa berkaitan dengan pikiran baik dari pembicara dan penerjemah. Dari minat tertentu adalah dasar untuk terjemahan keberhasilan kata menjadi kata lain.

Akhirnya, mereka menyelidiki bagaimana bahasa dan makna berhubungan dengan kebenaran dan dunia. Filsuf cenderung kurang peduli dengan kalimat yang sebenarnya benar, dan banyak lagi dengan jenis apa makna bisa benar atau salah. Seorang filsuf berorientasi kebenaran bahasa mungkin bertanya-tanya apakah suatu kalimat bermakna bisa benar atau salah, atau apakah kalimat dapat mengekspresikan proposisi tentang hal-hal yang tidak ada, bukan seperti kalimat yang digunakan.

Definisi Filsafat

Apakah benar bahwa filsafat akan mengakibatkan kekafiran ? Saya kira itu paradikma yang terlalu naif, banyak orang yang tak bersentuhan dengan filsafat menjadi kafir bahkan atheis. Sebaliknya, tak jarang pula banyak mereka yang bergelut dengan filsafat semakin mapan keimanannya.

Secara etimologi, istilah fisafat merupakan derivasi dari kata "falsafah” (bahasa Arab) yang diadopsi dari bahsa Yunani, yaitu dari kata "Philoshopia” yang terbentuk dari dua kata; "philien/philo” yang berarti cinta dan "shopia” yang berarti kebijaksanaan. Secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan dan orangnya disebut "filosof”. Orang yang pertama kali memakai kata "filsafat” adalah Phytaghoras, filosof Yunani (582-496 SM).

Menurut Plato (427-347 SM), filsafat adalah ilmu yang berbicara tentang hakikat sesuatu.sedangkan menurut santrinya, Aristoteles, filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi logika, matematika, metafisika, fisika, dan pengetahuan praksis. Bagi filosof muslim al-Farabi filsafat adalah ilmu yang bertugas untuk mengetahui semua yang ada karena ia ada.

Imanuel Kant (1724-1804) filosof abad renainses dari Jerman, filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai pokok pangkal dari segala perbuatan dan pengetahuan. Filsafat bagi Bertran Russel ialah kegiatan berfikir kritis yang bersifat serius. Fungsi filsafat bagi Russel sebagai pengkritik pengetahuan, mengkritisi asas-asas ilmu pengetahuan. Ia mengatakan filsafat adalah menjawab pertanyaan tinggi (sulit) yang tidak dapat dijawab oleh sains. (Ahmad Tafsir: Filsfat Umum)

Bagi William James, filsafat adalah kumpulan pertanyaan yang belum terjawab oleh sains secara memuaskan. Sedangkan menurut Fung Yu Lan filosof dari dunia Timur, filsafat adalah pikiran sistematis dan merupakan refleksi tentang kehidupan.

Dalam khazanah keilmuan Islam pengertian filsafat disejajarkan dengan pengertian “Hikmah”. Bagi dunia Islam filsafat adalah hikmah itu sendiri. Seperti yang dikatakana oleh Ibn Abbas hikmah adalah ucapan yang rasional yang dipelihara oleh kekuatan empirik.

Meskipun pengertian filsafat yang diberikan oleh para ahli filsafat baik Barat maupun Timur, klasik maupun modern berbeda-beda, namun dari semua definisi tersebut dapat diambil kesimpulan yang mengarahkan pada kesamaan pengertian filsafat:
1. filsafat merupakan proses pencarian kebenaran.
2. filsafat merupakan proses berfikir yang mendalam
3. filsafat adalah pencarian hakikat dari sesuatu hal yang ada.

Hadirnya filsafat bahasa dalam dunia filsafat merupakan pendatang baru. Filsafat bahasa baru berkembang sekitar abad keduapuluhan, setelah munculnya linguistik modern yang digawangi oleh tokoh strukturalis yaitu Mongin Ferdinand Saussure (1857-1913).

Menurut Verhaar pengertian filsafat bahasa mengandung dua makna yaitu; (1) filsafat mengenai bahasa, dan (2) filsafat berdasarkan bahasa. Dalam pengertian pertama bahasa dijadikan sebagai objek berfilsafat, seperti ilmu bahasa, psikolinguistik, sejarah asal usul bahasa. Dalam pengertian kedua bahasa dijadikan sebagai landasan atau acuan dalam berfilsafat. Dalam hal ini, menurut Verhaar bahasa mengandung dua pengertian; bahasa eksklusif yaitu bahasa komunikasi sehari-hari yang dipakai sebagai pedoman filsafat analitik dan bahasa inklusif yaitu bahasa musik, bahasa cinta, bahasa alam yang dijadikan arahan dalam hermeneutika. (R. Mustansyir: Filsafat Bahasa)

Menurut R. Mustansyir filsafat bahasa adalah penyelidikan secara mendalam terhadap bahasa yang dipergunakan dalam filsafat, sehingga dapat dibedakan pernyataan filsafat yang bermakna dan tidak bermakna.

Filsafat bahasa, kata Asep A. Hidayat dalam Filsafat Bahasa, pengertiannya dapat ditinjau dari dua pandangan yaitu; filsafat sebagai sebuah ilmu dan sebagai sebuah metode. Jadi menurut A. A. hidayat filsafat bahasa dalam pengertian sebagai ilmu adalah kumpulan dari hasil pemikiran filosof tentang hakikat bahasa yang disusun secara sisitematis untuk dipelajari dengan menggunakan metode tertentu. Sedangkan pengertian filsafat bahasa sebagai sebuah metode adalah metode berfikir secara mendalam, logis, dan universal mengenai hakikat bahasa.