Senin, 16 Mei 2011

Fungsi teori bagi praktik jurnalisme

Jika drama Shaksepeare, Romeo dan Juliet, terdiri dari 7 babak, jurnalisme memiliki 3: belajar, mempraktikkan, dan memenage. Setiap teori jurnalistik praktis harusnya menyangkut tiga hal ini, dan harus benar-benar berdasar pada kebutuhan jurnalisme, bukannya untuk kepentingan ilmu lain. Pada kuliah pengantar ini, kita akan mengulas beberapa teori jurnalistik praktis, yang menyatukan study mengenai dan praktik dalam jurnalisme penyiaran dan cetakan, bahkan sekarang mesti lebih luas lagi, karena sekarang kita benar-benar berada di era digital, di mana seluruh proses jurnalistik telah berubah. Mengumpulkan dan mengirimkan berita, kini semuanya digital. Seluruh proses di ruang berita tampaknya sudah serba digital juga.

Jurnalisme adalah segala sesuatu tentang berita dan informasi. Jurnalisme mencari berita dan melaporkannya. Jurnalisme adalah soal mengumpulkan fakta-fakta, memutuskan bagaimana meramunya, dan membuat keputusan penting, fakta-fakta mana yang diambil dan mana yang diabaikan. Jurnalistik adalah soal berbicara dengan orang-orang, rasa ingin tahu, berpikir jernih, dan mampu menerjemahkan gagasan-gagasan rumit menjadi sederhana, sehingga semua orang dapat memahaminya. Jurnalisme juga adalah soal menganalisa dan menginterpretasi peristiwa demi peristiwa; memahami bagaimana pemerintahan, politik, bisnis, industri dan masyarakat modern dijalankan.; dan mampu membuat cerita (stories) menarik mengenai semua peristiwa yang terkait dengan itu. Oleh karena itu, jurnalistik mengandung keterampilan-keterampilan praktis dan dasar-dasar intelektual yang luas, yang memberikan kredibilitas untuk melaporkan. Namun, demikian Jurnalisme berbeda dengan disiplin lain karena disiplin jurnalistik dibangun dari integrasi antara praktis dan teoritis. Teori selalu dalam hubungan dengan keterampilan praktis. Hukum dan etika, misalnya, tidak memisahkana entitasnya sejauh yang berlaku bagi jurnalisme: teori dimasukan ke setiap proses mengumpulkan, melaporkan dan mengkomunikasikan serta menyatu dengan keterampilan-keterampilan praktis. Setiap teori jurnalisme, yang berciri intelektual itu, melebur dan tidak terpisahkan dari keterampilan jurnalisme.

Sebuah teori yang praktis akan membantu jurnalisme memperluas pemahaman, menguji beragam teori, dan menerapkan sebagai solusi bagi masalah-masalah dalam proses pengumpulan dan pelaporan berita, dan pada saat yang sama mengembangkan keterampilan-keterampilan kreatif. Bagi jurnalis, kemampuan ini juga membantu meningkatkan keterampilan-keterampilan yang dapat berguna sepanjang hidup, bukan hanya dalam jurnalisme. Hal-hal ini menyangkut kemampuan komunikasi, semangat, kepercayaan diri, kepemimpinan, kerjasama dan kerja tim, kebebasan, otonomi dan kemampuan menilai diri sendiri. Jurnalis juga membutuhkan keterampilan interpersonal untuk mempengaruhi orang lain, mendengarkan dan bernegosiasi; keterampilan mengelola waktu dan project, mengatasi masalah, dan tentu saja Teknologi Informasi. Tapi sekali lagi, tidak ada yang berdiri sendiri, ini semua menjadi bagian dari teori paktis.

Paling tidak ada 8 fungsi utama sebuah teori praktis bagi jurnalisme:

1. Kemampuan memahami apa yang membuat sebuah cerita menarik; menemukan angle terbaik, menyampaikan dengan menarik dan dengan antusias kepada pembaca, pendengar dan pemirsa.
2. Bepengalaman menggunakan beragam teori yang terkait dengan mengumpul, menulis dan melaporkan berita.
3. Pemahaman kritis mengenai jurnalisme melalui pendekatan sarat informasi, analistis, dan kreatif untuk praktik professional
4. Keterampilan yang bisa ditularkan melalui penulisan, aktivitas interpersonal dan verbal dalam kerangka teoritis dan praktis.
5. Kemampuan analisis rasional dan berargumen
6. Pemahaman terhadap semakin rumit dan canggihnya kemajuan-kemajuan teknologi di dalam profesi jurnalisme.
7. Adanya kepekaaan social terhadap jurnalisme, dan tanggung jawab etis pribadi
8. Adanya awarness terhadap teknologi terbaru, seperti teknologi computer untuk ruang berita dan satelit komunikasi.

Wartawan Siaran dan Cetak harus memiliki kemampuan:

a. Memahami kosakata dasar berita dan jurnalisme
b. Memahami teori-teori penting dalam kajian jurnalisme
c. Mencari informasi dari beragam sumber tercetak maupun elektronik
d. Menggunakan informasi, konsep dan teori untuk menformulasi argument
e. Menganalisa masalah dan menformulasikan tanggapan terhadapnya
f. Menyediakan informasi dan argument secara oral, dan mahir berdiskusi dengan orang lain.
g. Menciptakan informasi dan argument seperti tulisan, cerita yang menarik dan akurat.
h. Bekerja secara tim
i. Memiliki kemampuan praktis dalam menulis dan melaporkan
j. Memiliki pengetahuan mengenai implikasi hukum dan etika dari berita
k. Mengetahui tekonologi terbaru dan pelaporan system computer
l. Menggunakan teknik-teknik terbaru dalam mengedit dan memproduksi untuk menghasilkan halaman dan layout atau program yang menyenangkan dan menarik.
m. Mengapresiasi beragam isu metodologi dan masalah-masalah dalam jurnalisme
n. Memahami teori-teori terbaru dan pendekatan-pendekatan teoritis terhadap praktik jurnalisme.
o. Membaca dan memahami penilaian kritis terbaru terhadap jurnalisme
p. Melaporkan dalam wilayah spesifik sampai yang paling umum dalam bidang jurnalisme.


Karena itu teori dan praktik jurnalisme harusnya menyediakan:

1. Cukupan yang luas mengengai pengetahuan-pengetahuan dasar jurnalisme
2. Kemampuan professional dalam pelaporan dan penulisan
3. Kemandirian berpikir dan kepekaan penilaian.

Pentingnya kemampuna intelektual - karenanya teoritis- bagi jurnalis mencakup bidang yang luas. Pengetahuan mengenai masyarakat di mana mereka hidup dan bekerja, ekonomi, politik, sosiologi, sejarah, hubugan internasional, dst. memerlukan pondasi yang layak dalam keterampilan professional.

Masih ada beragam hal-hal khusus di bidang penyiaran misalnya: self-motivation, kemampuan jurnalistik, dedikasi, news judgement, panampilan on-air, kepribadian, kualitas suara, penampilan fisik, pengalaman siaran, dan kwalitas audition tape.