Sabtu, 02 Februari 2013

Postmodernisme



Istilah postmodernisme telah digunakan dalam segala bidang, seperti ilmu sosial, seni, dan filsafat, namun sampai saat ini belum ada kejelasan esensi dari postmodernisme.  Kemunculannya didalam segala bidang ilmu pengetahuan semakin menambah keluasan wilayahnya, yang akhirnya juga semakin mengaburkan makna dari postmodernisme.  Istilah postmodern,  sebenarnya sudah mucul diwilayah seni. Dipakai oleh ilmuan yang bernama Federico de Onis dalam karyanya, Antologia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana sejak tahun 1930, yang merupakan wujud reaksi terhadap modernisme. Kemudian berlanjut dibidang historiografi oleh Toynbee dalam karyanya yang berjudul A Study of History (1947)[1].
Tapi istilah ini semakin populer manakala digunakan oleh para seniman, penulis, dan kritikus seperti Rauschenberg dan Cage, Burroughs dan Sontag untuk menujukkan sebuah gerakan yang menolak modernisme yang berhenti dalam berokrasi museum dan akademi. Kemudian penggunaan postmodern semakin luas dalam bidang arsitektur, dengan Charles Jencks sebagai pembicara utamanya. Lalu juga dalam bidang seni visual, seni pertujukan, dan musik di tahun 1980-an. Dalam bidang sosial-ekonomi diperkenalkan oleh Daniel Bell, bidang antropologi dikembangkan oleh Frederic Jameson dan Jean Baudrillard. sedangkan  dalam bidang filsafat Postmodernisme dikenalkan atau dikembangkan oleh Jean Francois Lyotard melalui karyanya, The Postmodern Condition: A Repor on Knowledge, yang terbit pada tahun 1984 dan sejak itu menjadi locus classicus untuk diskusi-diskusi tentang postmodernisme dibidang filsafat kini[2].
  Pemikiran Lyotard berkisar pada posisi pengetahuan di abad ilmiah kita, khususnya tentang cara ilmu dilegitimasikan melalui yang disebut ”narasi besar” seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi kaum proletar. Narasi-narasi besar atau metanarasi itu, itu katanya sekarang telah mengalami nasib yang sama dengan narasi besar sebelumnya seperti religi, negara-bangsa, dsb, sekarang meraka juga sulit untuk dipercaya. Maka akhirnya bagi Lyotard postmodernisme itu merupakan intensifikasi dinamisme, upaya tak henti-hentinya untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan secara terus menerus. Dari sini akhirnya semakin memperumit dan mengaburkan makna postmodernisme, sebab karakter ini juga merupakan karakter modernisme[3].
Dari perspektif ini postmodernisme diartikan sebagai ketidakpercayaan segala bentuk narasi besar: menolak filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran yang mentotalisasi, seperti Hegelianisme, liberalisme, marxisme, atau apa pun. Postmodernisme juga menolak pemikiran yang totaliter, sebab akan menghaluskan kepekaan kita terhadap perbedaan dan memperkuat kemampuan toleransi kita terhadap kenyataan yang tak terukur. Prinsipnya lalu bukan pada homologi para ahli tapi kepada paralogi para pencipta[4]
Lebih sederhananya filsafat melihat postmodernisme sebagai segala pemikiran yang hendak merevisi modernisme, tetapi tidak menolak modernisme secara total, melainkan dengan cara memperbarui premis-premis modern disana sini saja. Bisa dikatakan pula merupakan kritik terhadap modernisme dalam rangka mengatasi berbagai konsekuensi negatifnya. Misalnya tidak menolak pada kemajuan sains, melainkan kepada sains yang menjadi ideologi atau scientisme saja dimana menilai kebenaran ilmiahlah yang merupakan kebenaran paling sahid. Maka dapat ditarik kesimpulan karakter khas postmodernisme dalam sudut padang filsafat adalah, ia selalu berusaha mencari dasar segala pengetahuan (episteme, wissenschaft) tentang ”apa” nya (ta onta) realitas, dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui itu sendiri (dipahami secara psikologis maupun transendental)[5].     

Konsekuensi Logis
Dengan berkembangannya pemikiran postmodernisme, akhirnya menumbuhkan beberapa kejadian khususnya dalam dunia filsafat. Setidaknya ada tiga poin tentang gejala yang ditimbulkan postmodernisme. Pertama, isu berakhirnya filsafat, ini berkaitan erat dengan populernya dekonstruksi yang digunakan dalam postmodernisme. Istilah ini dipopulerkan oleh Jacques Derrida, dan dari penggunaan metode dekonstruksi ini merupakan pemicu munculnya isu berakhirnya filsafat. Sebab metode dekonstruksi yang ditawarkan Derrida melihat filsafat sebagai teks seperti halnya teks-teks sastra. Maka yang dilihat dalam teks-teks filosofis adalah bahwa unsur-unsur yang dilacak bukanlah pertama-tama inkonsistensi logisnya, argument-argumen lemahnya, ataupun premis-premis yang tidak menyakinkan, melainkan unsur yang secara filosofis sangatlah menentukan, atau unsur yang menjadikan sebuah teks itu filosofis. Jadi dimungkinkan berfilsafat itu sendirilah yang dipersolakan disini[6].
Kedua, rasionalitas dan pluralism, pernyataan isu berakhirnya filsafat, pada giliranya mengadaikan kritik mendasar atas konsep tentang ”rasionalitas” itu sendiri. Resionalitas kini cenderung dilihat amat terkait dengan perkara bahasa. Sedangkan bahasa itu kini dilihat sebagai amat beragam, sangat ditentukan oleh berbagai bentuk kehidupan yang mendasarinya. Maka rasionalisme kini cenderung tidak bisa dilihat bersifat mutlak dan universal, melainkan bersifat sementara dan konvesional saja. Secara umum postmodernisme mengantikannya dengan pluralism, pluralism permainan-bahasa dan bentuk kehidupan dianggap sebagai titik berangkat pemikiran para pemikir postmodernisme. Meskipun tidak semua sepakat bahwa pluralisme sebagai titik akhir dari postmodernisme[7].  Pada akhirnya berdampak pada runtuhnya kebenaran, rasionalitas dan objektivitas.
Ketiga, tumbangnya epistemologi, kritik terhadap rasionalitas pada gilirannya mengandaikan suatu berubahan mendasar dibidang epistemologi, artinya dalam hal cara kita memahami hakikat pengetahunan, dan perkara epistemologi ini akhirnya adalah perkara posisi subjek dalam hubungannya dengan dunia. Kemudian anggapan-anggapan dasar tentang hubungan antara subjek dan dunia itu akan membawa konsekuensi tertentu bagi konsep tentang kebenaran juga. Sedangkan dalam postmodernisme tidak menawarkan secara jelas paradigma epistemologi, yang pada akhirnya menimbulkan munculnya beraneka ragam sudut pandang kebenaran[8]. By. Yanto (aryboxs)   
 




[1] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 24
[2] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 24-27
[3] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 27
[4] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 28
[5] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 33
[6] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 43-57
[7] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 58-67
[8] Sugiharto,I.Bambang.1996.Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.hal 67-78