Sabtu, 08 Februari 2014

Identitas dan Gaya Hidup Subkultur Komunitas Sepeda Kebo


Part 1
Oleh. Pariyanto

Secara konseptual, subkultur diartikan atau disebutkan sebagai sebuah gerakan, tindakan, kegiatan, kelakuan kolektif, atau budaya bagian dari budaya besar. Subkultur biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan—memberikan tawaran baru pada kultur mainstream. Perlawanan ini bisa berupa apa saja: agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream (Barker,2003:374-409). Sementara Hartley (1976:293) mendefinisikan subkultur sebagai bentuk kolompok individu yang berbagi kepentingan, ideologi, dan praktik tertentu.
Itu sebabnya, pada teori subkultur juga disebutkan: anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur akhirnya seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya (Thornton:1995). Sejalan dengan ini, maka ketika berbicara subkultur akan berkaitan dengan gaya hidup dan identitas yang dibangun dan direpresentasikan oleh setiap anggota subkultur.
Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya (Kotler, 2002). Sedangkan menurut Assael (1984), gaya hidup menggambarkan ”keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Selain itu, gaya hidup menurut Suratno dan Rismiati (2001) adalah pola hidup seseorang dalam dunia kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat, dan pendapat yang bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan. Berkaitan dengan subkultur, tentunya gaya hidup merupakan pola hidup yang diekspresikan anggota subkultur untuk menandai keanggotaannya.
Gaya hidup yang dibagun setiap pribadi manusia—khususnya anggota subkultur selain membentuk makna dan simbol-simbol secara tidak langsung juga akan membentuk identitas. Menurut Giddens (1991) identitas itu merupakan sebuah proyek—bahwa identitas merupakan suatu yang diciptakan manusia, sesuatu yang diproses. Identitas adalah pengambaran diri sebagaimana yang dipahami secara refleksi oleh orang dalam konteks biografinya Giddens (1991). Identitas merupakan produk kultural—kontruksi sosial dan tidak mungkin keluar dari representasi kultur dan akulturalisasi (Barker,2000). Berkaitan dengan subkultur, tentunya identitas merupakan pribadi yang dibangun—melalui simbol-simbol dan gaya hidup untuk menandai keanggotaannya sebagai anggota subkultur.