Sabtu, 08 Februari 2014

Identitas dan Gaya Hidup Subkultur Komunitas Sepeda Kebo


                                                                                                                                                        Part 2
Oleh. Pariyanto

Fenomena komunitas sepeda kebo yang marak di Indonesia merupakan satu diantara cermin bahwa subklutur mengambarkan sebuah bentuk gaya hidup dan identitas masyarakat Indonesia—khususnya anggota komunitas sepeda kebo. Terkait bisa dikatakan sebagai gaya hidup, ini berkaitan dengan perilaku anggota komunitas sepeda kebo dalam memproduksi simbol-simbol untuk menunjukan keanggotaannya sebagai anggota komunitas sepeda kebo. Dimana keanggotaan ini akan dibagun lewat prilaku konsumtif terhadap sepeda kebo dan beberapa hal yang mengambarkan keanggotaan, semisal dengan konsumtif dan menggunakan pakaian khas Jawa, serta pakaian tempo dulu yang bernuasa patriotisme. Asumsi ini berdasarkan fenomena kebanyakkan komunitas sepeda kebo menandai komunitasnya dengan melakukan akulturasi—memakai sepeda kebo yang merupakan produk luar negeri dan mengabungkan dengan pakaian adat—khususnya pakaian khas Jawa dan pakaian tempo dulu yang bernuasa patriotisme.
Prilaku konsumtif terhadap sepeda kebo dan pakaian adat—khususnya pakaian khas Jawa dan pakaian tempo dulu yang bernuasa patriotisme, secara tidak langsung merupakan bentuk gaya hidup komunitas sepeda kebo. Asumsi ini berdasarkan, tidak mungkin komunitas selain sepeda kebo, semisal komunitas geng motor menggunakan sepeda kebo, tentunya akan menggunakan sepeda motor sebagai gaya hidupnya. Sejalan dengan Kotler (2002), bahwa gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Pola hidup menggunakan sepeda kebo merupakan ekspresi aktivitas yang dilakukan anggota komunitas sepeda kebo untuk menujukkan keanggotaannya.
Prilaku konsumtif terhadap sepeda kebo merupakan bentuk minat dan opini anggota komunitas sepeda kebo untuk memberikan tawaran baru—solusi—pada budaya mainstream—mengenai gaya hidup ramah lingkungan dan memberikan solusi kemacetan transportasi terutama di kota-kota besar. Sementara terkait penggunaan pakaian adat—khususnya pakaian khas Jawa dan pakaian tempo dulu yang bernuasa patriotisme, merupakan bentuk ekspresi anggota komunitas sepeda kebo atas opininya terkait memberikan tangapan menggenai semakin terkikisnya atau ditinggalkannya budaya-budaya lokal oleh masyarakat Indonesia—pewaris budaya lokal.
Gaya hidup komunitas sepeda kebo—konsumtif terhadap sepeda kebo dan pakaian adat—khususnya pakaian khas Jawa dan pakaian tempo dulu yang bernuasa patriotisme—secara tidak langsung juga akan menciptakan identitas. Terkait ini tentunya identitas sebagai anggota komunitas sepeda kebo. Sejalan dengan Giddens (1991) bahwa identitas    merupakan sebuah proyek—bahwa identitas merupakan suatu yang diciptakan manusia, sesuatu yang diproses. Identitas anggota komunitas kebo juga dibentuk melalui proses: berperilaku konsumtif terhadap sepeda kebo dan pakaian adat—khususnya pakaian khas Jawa dan pakaian tempo dulu yang bernuasa patriotisme. Dimana perilaku konsumtif ini dijadikan sebagai gaya hidup untuk menunjukkan keanggotaannya sebagai anggota komunitas sepeda kebo.  
            Proses ini pada akhirnya mampu menandai identitas komunitas sepeda kebo. Gaya hidup komunitas sepeda kebo secara tidak langsung menjadi ciri atau karakter khusus dimata budaya mainstream—masyarakat diluar komunitas sepeda kebo. Asumsi ini berbanding lurus dengan teori Giddens (1991) identitas adalah pengambaran diri sebagaimana yang dipahami secara refleksi oleh orang dalam konteks biografinya. Masyarakat mainstream akan berpadangan atau menjadikan gaya hidup komunitas sepeda kebo—konsumtif terhadap sepeda kebo dan pakaian adat—khususnya pakaian khas Jawa dan pakaian tempo dulu yang bernuasa patriotisme, menjadi bentuk atau cermin identitas komunitas sepeda kebo.  


Daftara Pustaka

Assael,H.1984.Consumer Behavior and Marketing Action 6 Edition.California: Kent Publishing co.
Barker,C.2003.Cultural Studies: Theory and Practice.London: SAGE Publications.
Barker,C.2000. Cultural Studies:Teori dan Praktik.Bantul:KREASI WACANA.
Hartley,Dick.1976.Subcultur The Meaning Of Style. London: Routledge.
Giddens,A.1991.Modernity and Self-Identity.Cambridge: Polity Press.
Thornton, Sarah (1995). Club Cultures: Music, Media, and Subcultural Capital. Cambridge: Polity Press.
Suratno, B & Rismiati,C.2001.Pemasaran Barang dan Jasa.Yogyakarta: Kanisus.
Kolter,Phillip &Gary Armstrong. 2002. Principel Of Marketing, Eleven Editing. New Jersey:    Prenticehall International.